Mulai Membangun Sebuah Keluarga Impian

Kehidupan seorang manusia tidaklah lengkap tanpa didampingi oleh seseorang yang mampu serta bersedia menjadi teman hidup disaat suasana susah maupun senang, pernikahan merupakan awal dari sebuah komitmen penting dalam memulai hidup yang baru.

Rencanakan Segalanya Sedari Dini

Seorang anak merupakan pelengkap kebahagiaan rumah tangga, mari kita mulai merencanakan kebutuhan anak-anak kita sejak dini, sehingga masa depannya akan terjamin dan orangtuapun akan tenang dan sejahtera.

Masih Berkata Tidak Pada Asuransi? Coba Anda Pikirkan Kembali

Asuransi Prudential adalah kunci dari semua masalah keuangan terbesar yang akan kita hadapi di masa yang akan datang. Mulai dari proteksi terhadap seluruh tabungan, pendidikan anak, kesehatan, dana pensiun, aset yang dimiliki sekaligus investasi masa depan yang sangat menguntungkan.

Persiapan Untuk Hari Tua

Usia kita tidak selamanya muda, masa-masa produktif dalam mencari nafkah akan tergantikan oleh masa tua, jika kita sudah berada pada titik tersebut tentu sudah saatnya pula kita untuk beristirahat menikmati hari tua, sudahkah anda mempersiapkan dana pensiun guna hari tua anda? ataupun merencanakan keberangkatan anda ibadah haji dan umroh?

Prudential Adalah Asuransi Jiwa Terbaik

Prudential berhasil meraih penghargaan sebagai 1st Best Insurance Company sejak tahun 2001-2013, hal ini membuktikan betapa tingginya kepercayaan masyarakat kepada kinerja serta pelayanan yang diberikan oleh tenaga pemasaran Prudential yang selalu siap sedia membantu perencanaan keuangan keluarga anda.

Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 April 2015

Harus Dari Sekarang

Jangan Cuma Bisa Nanya "Nak, Kalau Gede Mau Jadi Apa?"...
Emang kalau anak jawab "MAU JADI PILOT MA.."
anda sudah siapkan Biayanya? dan taukah anda Sekarang aja (2015) biaya sekolah Pilot Rp 650 Juta.. Trus Kalau anak anda masih umur 7 Tahun, Kan sekolahnya masih 10 Tahun Lagi... Jika Inflasi 10% saja, Maka 10 tahun lagi Biaya sekolah Pilot menjadi Rp 1,6 Milyard... 
Masih Mau Nanya Lagi Kalau gede Mau Jadi Apa?
Atau mending yok NABUNG untuk siapkan biaya pendidikan mereka...


Apa Yang Sudah Anda Persiapkan Sebelum Datangnya 5 Perkara?
Info Lebih Lanjut Hubungi
KURNIA HARAPAN | 0721 9959 257 | 0898 2284 844 |
PIN BLACKBERRY : 264F8132
Melayani Konsultasi Via SMS dan BBM

Survey Terhadap Orang Tua

Bagaimana Orang Tua di Indonesia Menyikapi Tentang Persiapan Dana Pendidikan Untuk Buah Hatinya, Lihat Hasil Surveinya di Video ini, 
Klik >>> 


Info Lebih Lanjut Hubungi
KURNIA HARAPAN | 0721 9959 257 | 0898 2284 844 |
PIN BLACKBERRY : 264F8132

Selasa, 13 Januari 2015

Sakit Itu Mahal

Sakit itu mahal dan sehat itu lebih mahal lagi...Oleh karena itu menjaga kesehatan sebelum terjadi sakit itu sangat mahal..

Seperti kita ketahui bersama di beberapa Rumah Sakit, biaya berobat sudah mengalami kenaikan di tahun 2015. Sebagai bentuk sedia payung sebelum hujan, tak ada salahnya apabila kita mulai merencanakan perlindungan asuransi bagi diri dan keluarga untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih komprehensif apabila diperlukan sewaktu-waktu.



Kontak Personal :
Kurnia Harapan
0898 2284 844
0821 7627 1090
264F8132

Saya Siap Membantu Merencanakan Keuangan Anda dan Keluarga Anda 

Sisihkan Sebagian Penghasilan

Berapapun Penghasilan anda Sekarang...Sisihkan Minimal 10% nya sejak Anda masih Muda..Dan Biarkan Uang itu Bertumbuh menjadi BESAR untuk anda Gunakan saat anda Pensiun Nanti..


Kontak Personal :
Kurnia Harapan
0898 2284 844
0821 7627 1090
264F8132

Saya Siap Membantu Merencanakan Keuangan Anda dan Keluarga Anda 

Selasa, 21 Oktober 2014

Persiapkan Sedari Dini

Pernah terbayang jika anak-anak Anda besar nanti, akan jadi apakah mereka? #SiapkahAnda jika mereka tiba-tiba membutuhkan bantuan finansial yang sangat besar demi cita-citanya?

Jumat, 03 Oktober 2014

ASK Your Friend

Kalau ada temen yang Melarang anda Ikut Asuransi, coba tanya ke temen anda tersebut. Kalau anda suatu saat sakit, lalu perlu Dana GEDE, apa temen anda tersebut Mau Kasih Uangnya? Kalau tidak mau, sampaikan ke temen anda tsb "MENDING DIAM DEH" he..he..he.. :-D


Rabu, 11 Juni 2014

Apa Sih Inflasi Itu?

Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.

Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota.
Indikator inflasi lainnya berdasarkan international best practice antara lain:
  1. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas. [Penjelasan lebih detail mengenai IHPB dapat dilihat pada web site Badan Pusat Statistik www.bps.go.id]
  2.  
  3. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan. 



Pengelompokan Inflasi
Inflasi yang diukur dengan IHK di Indonesia dikelompokan ke dalam 7 kelompok pengeluaran (berdasarkan the Classification of individual consumption by purpose - COICOP), yaitu :
  1. Kelompok Bahan Makanan
  2. Kelompok Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau
  3. Kelompok Perumahan
  4. Kelompok Sandang
  5. Kelompok Kesehatan
  6. Kelompok Pendidikan dan Olah Raga
  7. Kelompok Transportasi dan Komunikasi.

Disamping pengelompokan berdasarkan COICOP tersebut, BPS saat ini juga mempublikasikan inflasi berdasarkan pengelompokan yang lainnya yang dinamakan disagregasi inflasi. Disagregasi inflasi tersebut dilakukan untuk menghasilkan suatu indikator inflasi yang lebih menggambarkan pengaruh dari faktor yang bersifat fundamental.
Di Indonesia, disagegasi inflasi IHK tersebut dikelompokan menjadi:
  1. Inflasi Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten (persistent component) di dalam pergerakan inflasi dan dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti:
    • Interaksi permintaan-penawaran
    • Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang
    • Ekspektasi Inflasi dari pedagang dan konsumen
       
  2. Inflasi non Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung tinggi volatilitasnya karena dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Komponen inflasi non inti  terdiri dari :
    • Inflasi Komponen Bergejolak (Volatile Food) :
      Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun perkembangan harga komoditas pangan internasional.  
    • Inflasi Komponen Harga yang diatur Pemerintah (Administered Prices) :
      Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) berupa kebijakan harga Pemerintah, seperti harga BBM bersubsidi, tarif listrik, tarif angkutan, dll.
     
Determinan Inflasi

Inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi supply (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi. Faktor-faktor terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara partner dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price), dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi.

Faktor penyebab terjadi demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihioutput potensialnya atau permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian. Sementara itu, faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi dalam menggunakan ekspektasi angka inflasi dalam keputusan kegiatan ekonominya. Ekspektasi inflasi tersebut apakah lebih cenderung bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan (lebaran, natal, dan tahun baru) dan penentuan upah minimum regional (UMR). Meskipun ketersediaan barang secara umum diperkirakan mencukupi dalam mendukung kenaikan permintaan, namun harga barang dan jasa pada saat-saat hari raya keagamaan meningkat lebih tinggi dari komdisisupply-demand tersebut. Demikian halnya pada saat penentuan UMR, pedagang ikut pula meningkatkan harga barang meski kenaikan upah tersebut tidak terlalu signifikan dalam mendorong peningkatan permintaan.

Kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin.

Kedua, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah.

Sumber : Bank Indonesia

Asuransi Jiwa Bukan Untuk Ditolak tapi Bisa Ditunda

Bila mendengar kata asuransi jiwa sebagian orang masih merasa alergi dan langsung menolak. Suatu hal yang biasa karena tak kenal maka tak akan sayang. Padahal kalau mengetahui manfaat dan keuntungannya pastinya tidak akan ada penolakan tapi yang ada adalah penundaan.

Setiap orang tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi beberapa detik di depannya segala resiko bisa saja terjadi dan menimpa siapapun tanpa pandang bulu. Seseorang yang terlihat sehat bisa saja tiba tiba terkena stroke atau penyakit kritis lainnya tanpa sebuah pertanda sekalipun. Banyak yang beranggapan bahwa bila kita mengasuransikan diri berarti uang yang kita bayarkan akan terbuang sia sia, hal seperti inilah yang membuat sebagian dari kita menjadi alergi dan menolak bila dijelaskan segala manfaat dari pentingnya asuransi jiwa.

Memang benar bahwa hidup dan mati kita ada di tangan Tuhan tapi bukankah sebagai manusia kita juga diajarkan untuk mempersiapkan segala sesuatunya secara maksimal, terutama bila selagi mampu dan memiliki sumber daya untuk melakukannya. 
Sebagian atau hampir seluruh umat manusia pasti bercita cita ingin kaya dan berusaha sekuatnya untuk mencapai tujuannya tersebut. Tapi terkadang sebagian lupa bahwa segala sesuatu yang tidak diinginkan bisa saja terjadi di tengah kehidupannya bila tidak memiliki perlindungan bukan tidak mungkin semua yang dimilikinya akan habis untuk membiayai segala kemungkinan tersebut.

Kita mengetahui bahwa penyakit apapun bentuknya datang menghampiri tanpa pernah ada undangan jadi kita tidak pernah tahu terkena giliran atau tidaknya, demikian juga dengan kematian ataupun musibah kecelakaan. Semua musibah adalah KehendakNya, kita hanya bisa mengantisipasinya dengan segala persiapan yang mampu kita lakukan.

Sudah saatnya masyarakat dari berbagai tingkat ekonomi menyadari akan pentingnya asuransi jiwa karena asuransi tidak selalu identik dengan “MAHAL”, semua tergantung dari tingkat perlindungan yang kita inginkan. Semakin sadar di usia muda maka akan relatif lebih murah biaya yang harus kita keluarkan. Sekarang banyak produk yang dipasarkan oleh masing masing perusahaan dengan segala kelebihannya yang bisa dipilih dan dipelajari. Jangan membeli produk asuransi hanya karena pertemanan tapi belilah karena membutuhkan, yang terpenting lagi pelajarilah kebutuhan yang diinginkan dan produk yang akan dipilih karena semua itu adalah untuk kepentingan diri sendiri.

Asuransi bukanlah produk yang mengerikan, jadi jangan menolak dulu sebelum mendengarkan penjelasannya karena sesungguhnya bila kita mau meluangkan waktu untuk mempelajarinya maka kita akan bersyukur telah disadarkan sesuatu hal yang sering terlupakan karena kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dalam kehidupan kita. Membuka wawasan untuk hal yang baik membutuhkan kejernihan pikiran dan ketulusan hati dan keputusan selanjutnya ada di tangan kita masing masing.

Selasa, 10 Juni 2014

Setiap Orang Pasrti Menghadapi Resiko Sakit Dan Meninggal Dunia

JAKARTA. Semua orang, baik kaya maupun miskin, menghadapi dua risiko yang sama, yakni sakit dan mati. Seseorang boleh saja memiliki gaji ratusan juta rupiah saban bulan. Tapi, ketika sakit datang, ia tak bisa mengelak.

Gaji dan kekayaannya juga belum tentu cukup membiayai pengobatannya. Urusan kapan ajal menjemput kita lebih misterius lagi.

Masalahnya, ketika benar-benar datang, risiko sakit dan meninggal itu akan mengganggu perencanaan keuangan kita sebagai individu atau keluarga. Kematian orang yang menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, misalnya, bisa mengancam masa depan pendidikan buah hati. Persoalan kian rumit jika keluarga itu menanggung utang.

Jangan keburu paranoid! Semua risiko bisa kita hadapi jika kita mau mengantisipasinya sejak dini. Untuk mengantisipasi dua risiko utama dalam hidup tadi, para perencana keuangan menyarankan, setiap keluarga menyiapkan proteksi berupa asuransi. Ini syarat mutlak sebelum kita menyusun rencana keuangan yang lain.

Di tengah tawaran produk asuransi yang semakin marak, tentu saja, kita tidak bisa asal mencomot produk asuransi. Masalahnya, memilih produk asuransi tidak mudah. Orang bilang, asuransi adalah produk yang manfaatnya tidak bisa langsung terlihat ketika baru dibeli. Alhasil, kita kerap diliputi kebingungan dalam menjatuhkan pilihan atau malah merasa tidak memerlukan asuransi.

Meski begitu, kita tak perlu gelap mata dengan membeli berbagai macam polis asuransi sekaligus. Betul, sebagai perlindungan dari beragam ancaman lingkungan, idealnya, segala risiko perlu diproteksi. Namun, karena keterbatasan dana, kita harus bisa memilih asuransi yang sesuai isi kantong dan kebutuhan hidup.

Hitung kebutuhan dengan cermat

Karena itu, sebelum memilih produk asuransi, kita perlu melakukanprofiling. Profiling adalah analisa yang meliputi kedudukan si calon nasabah dalam keluarga, siapa saja anggota keluarga yang jadi tanggungannya, sejarah kesehatan, pekerjaan, karakter, kebutuhan, dan kondisi lingkungan. 
Dengan mengetahui profil diri sendiri, seseorang bisa menentukan risiko dan jenis asuransi apa saja yang dibutuhkannya. Apalagi, risiko atau kebutuhan hidup selalu berkembang dan berubah seiring perjalanan waktu dan nasib seseorang.

Risiko yang paling pasti adalah meninggal dunia. Risiko ini dapat timbul karena sakit, kecelakaan, bencana alam atau peristiwa-peristiwa lain yang tak terduga. Otomatis, risiko ini wajib diproteksi oleh mereka yang memiliki nilai ekonomis atau menjadi sumber penghasilan keluarga. Jika si sumber pendapatan tersebut meninggal dunia atau mengalami kecelakaan berat, produk asuransi dapat dipakai oleh anggota keluarga yang ditimpa kemalangan itu untuk membiayai kebutuhan hidupnya dan terbebas dari kesulitan finansial.

Karena itu, asuransi jiwa sifatnya wajib bagi pencari nafkah atau tulang punggung keluarga. Sedangkan jika tidak punya tanggungan atau tidak ingin mewariskan apapun, orang tersebut tidak memerlukan asuransi jiwa.

Risiko atau ancaman lain adalah kemungkinan menderita sakit, cacat atau kelumpuhan. Alih-alih mencomot dana investasi, lebih aman jika biaya berobat berasal dari klaim asuransi yang kita cairkan. Jadi, biaya itu tidak mengganggu alokasi dana darurat atau dana investasi.

Asuransi kesehatan yang dapat melindungi seseorang dari berbagai risiko itu diperlukan, tidak hanya bagi si pencari nafkah tapi juga setiap orang. Tapi untuk efisiensi, asuransi kesehatan terutama dibutuhkan bagi si pencari nafkah.

Risiko yang juga dapat mengancam tujuan hidup dan kesejahteraan seseorang adalah kehilangan atau kerusakan barang berharga yang dimiliki. Namun, dalam menentukan jenis asuransi yang diperlukan untuk memproteksi harta benda, kita harus membuat skala prioritas.

Untuk mengukur jenis harta benda yang wajib diproteksi, kita bisa melihat nilai dan manfaat harta tersebut. Misalnya, rumah tinggal dan kendaraan sangat penting untuk aktivitas keluarga.

Ancaman lain yang berpotensi menghampiri hidup seseorang dapat bersumber dari lingkungan. Misalnya risiko inflasi, bencana alam, penipuan investasi, dan sebagainya.

Para perencana keuangan sepakat menyarankan, sebuah keluarga minimal harus memiliki asuransi yang terkait dengan risiko pribadi, yakni asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Di luar dua asuransi itu, kita bisa memiliki asuransi lain sesuai kebutuhan dan prioritas masing-masing.

Dalam memilih asuransi, kita juga harus menaksir kebutuhan uang pertanggungan. Kebutuhan pertanggungan asuransi jiwa, misalnya, dapat berdasar penghasilan atau pengeluaran seseorang. Ini juga terkait jangka waktu proteksi yang dibutuhkan. Misalnya sampai anak terkecil sudah punya penghasilan.

Setelah mengetahui uang pertanggungan dan masa proteksi, langkah terakhir adalah membuat simulasi perhitungan asuransi untuk mengetahui jumlah premi yang harus kita dibayarkan. Maklum, selain pengeluaran premi asuransi, sebuah keluarga pasti memiliki daftar panjang pengeluaran-pengeluaran pokok lainnya yang juga tak boleh diabaikan.

Masih bingung juga? Anda bisa mendiskusikan kebutuhan proteksi asuransi Anda dengan para perencana keuangan (financial planner) maupun perusahaan-perusahaan asuransi yang terpercaya.

Sumber : Kontan

Mau financial freedom? Jangan takut bermimpi!

JAKARTA. Ketika kita masih kanak-kanak, salah satu pertanyaan standar orang dewasa yang harus kita jawab adalah: apa cita-citamu? Ingatkah Anda apa jawaban waktu itu? Apakah kini Anda benar-benar berhasil mencapai cita-cita itu?

Konon tak sampai seperempat orang yang berhasil menggapai cita-cita dan mimpinya. Konon kabarnya pula, hanya seperempat dari mereka yang berhasil menggapai cita-cita semasa kanak-kanak benar-benar merasa puas. Sisanya menyesal karena merasa salah menetapkan cita-cita.

Kegagalan orang menggapai cita-cita atau menikmati cita-cita masa kanak-kanak itu yang acap menyebabkan kita takut bermimpi. Betapa sering kita mendengar ungkapan, ”Jadi orang yang realistis saja! ”Salah satu peribahasa favorit kita semasa SD, bagai pungguk merindukan bulan, semakin membuat kita “tahu diri” dan kian takut bermimpi.

Memang, mimpi akan tetap tinggal sebagai mimpi kalau kita tak pernah menetapkan strategi untuk menggapainya. Jika kita mempersiapkan secara rapi daftar upaya yang harus kita lakukan untuk merengkuhnya, saat itu pula mimpi menjelma jadi rencana.

Begitu pula dengan mimpi finansial Anda. Sebagai karyawan biasa, mungkin Anda “tahu diri” sehingga tak mau bermimpi menikmati wisata keliling Eropa selama 40 hari bersama istri terkasih. Sebagai pengusaha “kelas teri” mungkin Anda merasa sebagai pungguk merindukan bulan kalau memimpikan status financial freedom. Memang, semua itu hanya mimpi kalau Anda tak kunjung menyusun rencana.

Terserah Anda kalau memang tak ingin berwisata keliling dunia. Suka-suka Anda kalau tak mau berhenti bekerja sebelum masa pensiun tiba. Namun, tak inginkah Anda menyekolahkan buah hati ke universitas terkemuka di Indonesia bahkan ke Amerika? Tak kepingin kah Anda mengantarkan mereka menggapai mimpi dan cita-cita?

Ayo, segera ubah mimpi-mimpi finansial Anda menjadi rencana. Kalau belum tahu caranya, mari menimba ilmunya dari para pakar yang memang kompeten di bidangnya.

Sumber : Kontan

Selasa, 20 Mei 2014

Masih Mau Menolak Agent Asuransi ?

Ada seorang bapak yang mempunyai 4 orang teman baik dengan profesi Dokter Spesialis, Kepala Cabang Bank, Agent Asuransi dan ustadz.

Suatu hari si bapak mengalami kecelakaan & di rawat di RS, setelah itu bapak tersebut berpulang ke Rahmatullah.

Seminggu setelah kejadian itu, ke 4 temannya datang.

Dokter : Ibu, Saya turut berduka-cita atas kejadian ini, namun biaya rumah sakit selama masa perawatan harus tetap dibayar.

Banker : Saya juga turut bersedih atas kejadian ini. Tetapi bu, hutang2 mendiang waktu masih ada, tetap harus dibayar.

Ustadz : Ibu, saya turut berduka atas meninggalnya Almarhum, saya hanya bisa mendo'akan semoga Almarhum mendapat berkah serta ampunan dari Allah SWT.

Agent Asuransi : Ibu, Saya turut bersedih atas peristiwa ini & sudah menjadi kewajiban perusahaan saya untuk membayar biaya rumah sakit & memberikan uang pertanggungan untuk keluarga ibu. Seperti apa yang sudah mendiang percayakan kepada kami selama ini.

Apakah Anda masih mau menolak seorang Agent Asuransi ?
Kami hanya menjalankan tugas kami dengan sebagaimana mestinya. Saat ini, mungkin tidak banyak yang bisa kami kerjakan untuk Anda. Mungkin, saat ini, kami hanya merepotkan Anda, mengganggu Anda. Anda benci dengan kami karena kami selalu membahas meninggal, cacat, sakit, kecelakaan, bahkan mungkin sebagian dari Anda berpikiran bahwa kami seperti sedang nyumpahin Anda. Akan tetapi, saat Anda membutuhkan, kami ada untuk Anda di barisan paling depan. Kami akan menjalankan tugas kami di saat Anda paling butuh bantuan.

Terima kasih, untuk kepercayaan Anda kepada kami. Kami akan selalu mengerjakan tugas kami untuk Anda dengan sebaik-baiknya.

Senin, 19 Mei 2014

Risk Based Capital Prudential Indonesia Tahun 2013

Dewasa ini, istilah “Risk Based Capital” (singkatnya RBC) telah menjadi penting, khususnya berkaitan dengan pengukuran keamanan finansial atau kesehatan perusahaan-perusahaan asuransi.

Regulasi pemerintah berdasarkan RBC mengenai kesehatan perusahaan-perusahaan asuransi diluncurkan ke industri asuransi di Indonesia oleh Pemerintah setempat di tahun 1999. Beberapa perusahaan asuransi sekarang telah berada dibawah pengawasan khusus Pemerintah karena rasio kesehatan RBC mereka tidak memenuhi ketentuan minimum Pemerintah. 


Dalam dua kalimat: rasio kesehatan RBC menginformasikan apa kepada kita?
Secara umum, rasio kesehatan RBC adalah suatu ukuran yang menginformasikan tingkat keamanan finansial atau kesehatan suatu perusahaan asuransi. Semakin besar rasio kesehatan RBC sebuah perusahaan asuransi, semakin sehat kondisi finansial perusahaan tersebut.

Apa sebenarnya rasio kesehatan RBC?
Rasio kesehatan RBC suatu perusahaan asuransi pada dasarnya adalah rasio dari nilai kekayaan bersih atau “net worth” perusahaan bersangkutan, yang dihitung berdasarkan peraturan akuntasi standar, dibagi dengan nilai kekayaan bersih, yang dihitung kembali dengan mengikutsertakan resiko-resiko pemburukan yang mungkin terjadi.

Pengikutsertaan resiko-resiko pemburukan yang mungkin tersebut merefleksikan adanya ketidakpastian yang dihadapi oleh perusahaan dalam aktivitas sehari-harinya, misalkan saja kemungkinan jatuhnya nilai aset secara jangka pendek akibat investasi pada instrumen yang lebih beresiko, demikian pula kemungkinan naiknya tingkat hutang akibat perkembangan yang tidak menguntungkan di masa depan dalam hal tingkat suku bunga, tingkat kematian, tingkat putus kontrak, dan lain sebagainya.

Nilai kekayaan bersih yang ke dua, sebagai penyebut dari rasio tersebut, sebenarnya merupakan besaran yang semula disebut sebagai Risk Based Capital, karena berupakan besaran nilai kekayaan bersih, atau Capital, yang dihitung secara Risk Based.

Ketentuan kesehatan RBC di Indonesia
Perusahaan-perusahaan asuransi di Indonesia harus melaporkan rasio kesehatan RBC mereka ke Pemerintah secara kwartalan, dan ketentuan minimum yang ada sekarang bagi rasio tersebut adalah 120%, satu peningkatan sejak ketentuan minimum rasio tersebut dikenalkan sebesar 15% di tahun 1999.

RBC Menurut Kementrian Keuangan
Menurut Keputusan Menteri Keuangan No. 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, dalam pasal 2, menyatakan: 

(1) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi setiap saat wajib memenuhi tingkat solvabilitas paling sedikit 120% (seratus dua puluh per seratus) dari resiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat dari deviasi dalam pengelolaan kekayaan dan kewajiban. 

(2) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi yang tidak memenuhi ketentuan tingkat solvabilitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), namun memiliki tingkat solvabilitas paling sedikit 100% (seratus per seratus), diberikan kesempatan melakukan penyesuaian dalam jangka waktu tertentu untuk memenuhi ketentuan tingkat solvabilitas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 

Dari Kepmenkeu di atas dinyatakan bahwa solvabilitas atau RBC sebuah perusahaan asuransi adalah minimal sebesar 120%. Angka ini menunjukkan bahwa apabila 100% nasabah mengajukan klaim, maka perusahaan tersebut minimal masih punya sisa dana sebesar 20%. 

RBC Prudential 
RBC Prudential Pada tahun 2012, RBC Prudential Indonesia sebesar 321%. Tahun berikutnya, yaitu 2013, terjadi kenaikan sebesar 331%, sehingga RBC Prudential pada tahun 2013 menjadi sebesar 1090%. Hal ini berarti apabila seluruh nasabah mengajukan klaim secara bersamaan, maka Prudential masih mempunyai dana sisa sebesar 990%, atau hampir 10 kali lipat dari klaim keseluruhan tersebut.

Senin, 12 Mei 2014

Berapa Saldo Rekening Tabungan Anda?

Silahkan jawab pertanyaan sederhana ini : Berapa Saldo Rekening Tabungan Anda?
55 juta, 100 juta, 270 juta atau bahkan TIDAK ADA alias NOL KOSONG karena anda tidak pernah bisa menabung ketika semua uang yang diterima setiap bulan SELALU HABIS untuk kebutuhan hidup harian dan membiayai GAYA HIDUP.

Berapa Saldo Rekening Tabungan Milikmu?
Sesuatu banget ya? Saya yakin anda akan menjawab : RAHASIA dong! Mau tahu aja loe!!!
YEAH! Saya sendiri (jujur) akan menjawab seperti itu karena jumlah uang simpanan adalah RAHASIA PRIBADI dan TIDAK BOLEH ADA ORANG LAIN YANG TAHU (KECUALI ISTERI).

Kenapa saya menanyakan pertanyaan tersebut?

Saya baru saja melihat hasil pencarian Google untuk katakunci ‘BIAYA KULIAH 2013′ silahkan buka sendirihttps://www.google.com/#q=biaya+kuliah+2013
DAN … HASILNYA SUNGGUH MENGEJUTKAN! Beberapa Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta mematok harga yang TINGGI untuk mahasiswa baru tahun ajaran 2013-2014 yang ingin menuntut ilmu di kampus tersebut.

Apa artinya?
Saya langsung berpikir 1.000x bahkan 1.000.000x sambil membuka situs mobil banking dari rekening tabungan saya. Kalau anak saya saat ini kuliah maka dia hanya masuk ke PTN INI dan tidak bisa masuk ke PTN ITU karena (jujur) saya kurang uang untuk biaya masuk kuliahnya. Masuk PTS INI dan hanya bermimpi untuk masuk PTS ITU karena lagi … lagi … TIDAK ADA BIAYA!!!

Anak saya saat ini baru duduk di kelas 4 SD maka hitungan normal dia akan kuliah pada 2 (lulus SD) + 3 (lulus SMP) + 3 (lulus SMA) = 8 tahun lagi.
Saya langsung mencari informasi di Google cara menghitung biaya pendidikan anak untuk 8 tahun mendatang. Eh, ternyata inflasi pendidikan di Indonesia mencapai 20 persen. Lebih tinggi dari Malaysia, Thailand, Filipina, bahkan Korea.

Jika pada 2013 uang masuk perguruan tinggi negeri S1 jalur khusus memerlukan dana Rp 60 juta. Maka 8 tahun kemudian, di mana anak sudah duduk di bangku akhir SMA, biaya uang tersebut bisa mencapai Rp ……… juta, mengingat inflasi pendidikan yang tinggi. (Saya tidak menuliskan angkanya tetapi yang pasti BANYAK JUTA sehingga merasa pusing sendiri)

Saya percaya bahwa TUHAN MAHA KAYA sehingga Dia akan memberikan rejeki pada saya untuk mencari biaya sekolah anak. Tetapi, saya harus mempunyai rencana dan langkah antisipasi agar biaya tersebut masih bisa ter-cover.

Berapa Saldo Rekening Tabungan Milikmu?
Berapa usia anak anda sekarang? Silahkan hitung sendiri biaya kuliah dengan inflasi pendidikan 20% per tahun, kira-kira … apa yang anda rasakan?

Setelah ketemu angka total, berapa uang yang harus anda tabung per bulan atau per tahun untuk menyiapkan dana pendidikan anak tersebut? Misalnya ketemu angka Rp. 1 juta per bulan atau Rp. 12 juta per tahun maka … MULAILAH MENABUNG SEKARANG JUGA!!!

Tetapi, harus dicatat bahwa KEHIDUPAN DI DUNIA INI TIDAK ADA YANG ABADI. Maksudnya, suatu saat kalau sudah takdir bisa saja anda mendapat RESIKO KEHIDUPAN seperti SAKIT KRITIS, CACAT TOTAL atau bahkan resiko terbesar adalah MENINGGAL DUNIA. Semua resiko kehidupan tesebut akan berpengaruh pada RENCANA MASA DEPAN BIAYA PENDIDIKAN ANAK.

Jika terjadi resiko kehidupan sakit kritis dan cacat total maka banyak orang yang TIDAK BISA BEKERJA DENGAN OPTIMAL sehingga mempengaruhi kewajiban menabung per bulan atau per tahun. Apalagi kalau MENINGGAL DUNIA maka dijamin TABUNGAN AKAN BERHENTI TOTAL. Hal ini biasa terjadi ketika anda menabung secara konvensional di rekening bank biasa.

Kenapa anda tidak mencoba menabung di REKENING KHUSUS UNTUK BIAYA PENDIDIKAN ANAK dari Prudential yang dilindungi dengan asuransi kesehatan (sakit kritis , cacat total) dan asuransi jiwa (meninggal dunia) saja?

Apapun resiko kehidupan yang anda alami maka Insya Allah biaya pendidikan anak tetap terwujud karena Prudential akan menabungkan secara otomatis sampai anak berusia 18 tahun atau 25 tahun sesuai pilihan anda. Anda sudah STOP MENABUNG karena terkena resiko kehidupan tetapi REKENING KHUSUS akan bertambah setiap bulan sesuai besar rencana anda.

Menurut anda, tabungan rekening khusus Prudential seperti ini manfaatnya BAIK atau SANGAT BAIK untuk menjamin masa depan pendidikan anak tercinta?
Silahkan tentukan jawaban sendiri. Jika anda sudah yakin, perlu bantuan menghitung biaya pendidikan anak dan ingin mengetahui lebih jauh tentang REKENING 2 IN 1 PRUDENTIAL silahkan hubungi saya.

Info Lebih Lanjut Hubungi
KURNIA HARAPAN | 0821 7627 1090 | 0898 2284 844 |
PIN BLACKBERRY : 264F8132

Selasa, 06 Mei 2014

MENGHITUNG BIAYA SEKOLAH ANAK

Menurut perencana keuangan Mike Rini Sutikno, CFP, biaya sekolah anak selalu menjadi masalah keuangan rumah tangga. “Pendidikan sama pentingnya dengan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan rumah. Dan setiap orangtua harus bisa mengantisipasi, karena pertama, pendidikan itu, meski bukan kebutuhan hidup pokok, tapi sangat krusial dalam rangka membangun kemandirian seseorang anak. Dengan pendidikan, anak nantinya bisa memiliki basic kompetensi untuk bisa menjadi individu yang mandiri, termasuk mandiri secara finansial,” jelas Mike.

Oleh karena itu, orangtua harus bisa menyelanggarakan dana pendidikan. Masalahnya, biaya ini tidak murah, selalu naik dari tahun ke tahun. Dalam mempersiapkan dana pendidikan, orangtua dituntut untuk bisa mengalokasikan penghasilan mereka, sementara kemampuan ini tidak merata. Semakin berat dana pendidikan yang harus disiapkan, semakin besar pula dana yang harus dialokasikan.

Orangtua rata¬-rata punya penghasilan, tapi belum tentu bisa mengalokasikan untuk tabungan dana pendidikan anaknya. Faktornya banyak, mulai dari beban biaya hidup, kesalahan pengelolaan keuangan keluarga, menganut gaya hidup yang kurang tepat, sampai inflasi.

Untuk itu harus ada sebuah perencanaan dana pendidikan, sehingga orangtua mampu membayar biaya pendidikan anak sesuai jenjang pendidikannya. Konsep dana pendidikan adalah orangtua menabung sepanjang jangka waktu dana pendidikan anak. Umumnya, jenjang pendidikan anak adalah dari usia 4 (playgrup) sampai usia 18 tahun, jadi sekitar 14 tahun. “Nah, orangtua harus menabung dalam jangka panjang, dan kemudian akan diambil sesuai jenjang pendidikannya, misalnya SD, SMP, dan seterusnya.”

Tampaknya sederhana, tetapi praktiknya banyak tantangan. Kenapa? “Jangka waktu 14 tahun itu jangka waktu yang lama. Inflasi yang terjadi selama 14 tahun itu bisa membuat dana pendidikan membengkak berkali lipat. Ini memberatkan pengalokasian penghasilan orangtua. Juga, rata-rata kenaikan biaya pendidikan tidak sama di berbagai daerah dan sekolah. Nah, tergantung orangtua mau menyekolahkan anak dimana. Orangtua juga harus mempertimbangkan bakat dan minat anak.”

Yang juga harus dipertimbangkan adalah kalau dana pndidikan tersebut berhenti di tengah jalan, karena orangtua tak lagi mampu menabung. Misalnya karena sakit, meninggal, kena PHK, dan sebagainya. Ini harus diantisipasi juga.

Kriteria dana pendidikan yang berhasil adalah pada saat akan digunakan, jumlah dana pendidikan itu cukup, sesuai dengan kenaikan inflasi. “Tinggal tergantung dimana orang tua akan menabung atau menginvestasikan dana pendidikan. Masalahnya, tidak semua orangtua paham bagaimana bisa menabung dengan efektif, karena itu berarti harus punya pengetahuan tentng produk-produk investasi. Bicara mengenai instrumen finanial, berarti kita harus memahami ada risiko dan return (tingkat keuntungan).”

Target Dana

Jadi, bagaimana cara yang efektif? Pertama, orangtua harus mengitung jenjang pendidikan yang akan dilewati anak. Orangtua harus memahami tahapannya. Misalnya berapa usia anak sekarang, kapan masuk SD, SMP, SMA, dan seterusnya. Contoh, pada tahun 2009 anak berusia 3 tahun, berarti ia akan masuk SD tahun 2011, SMP tahun 2017, dan seterusnya.

Langkah pertama, orangtua harus memperhitungkan kapan membayar dana pendidikan. Bukan sekarang, tapi 3 tahun lagi, 9 tahun lagi, dan seterusnya. Setelah mengetahui kapan membayar, berarti orangtua akan tahu berapa lama waktu yang ia punya untuk mempersiapkan dana pendidikan.

Setelah tahu waktunya, kemudian dilihat berapa biayanya sekarang dan nanti. “Ini berarti orangtua harus tahu kemana anak akan disekolahkan, karena biaya pendidikan di berbagai sekolah nggak sama. Orang tua harus tahu ke sekolah mana anak akan disekolahkan.” Misalnya, SD A, SMP B, SMA C, dan seterusnya. Kalau sudah memutuskan pilihan sekolah, orangtua bisa minta informasi sekolah yang bersangkutan. Tanyakan berapa uang pangkal tahun 2009, begitu juga SMP dan SMA, kalau perlu sampai perguruan tinggi.

Selanjutnya, orangtua harus memperkirakan uang pangkal masing-masing jenjang tersebut kelak ketika si kecil akan masuk. Misalnya dengan perkiraan asumsi kenaikan 10 persen per tahun, berarti pada tahun 2011 ketika si anak mau masuk SD A, uang pangkal dari yang misalnya Rp 5 juta, naik jadi Rp 8 juta. “Ngitungnya gampang, kok, pakai rumus feature value , yaitu menghitung berapa nilai masa depan suatu jumlah tertentu saat ini, dengan asumsi kenaikan tiap tahun. Paling gampang tanya ke penjual produk tabungan dana pendidikan seperti bank atau agen asuransi,” kata Mike.

Ketemulah target dana untuk masuk SD tahun 2011, misalnya Rp 8 juta. Berarti dalam 3 tahun, orangtua harus bisa mengumpulkan dana Rp 8 juta. Berapa rupiah setiap bulan yang harus disisihkan dari penghasilan agar tahun 2011 bisa terkumpul uang untuk sekolah anak. Itu baru SD-nya saja. Hal sama berlaku untuk SMP dan SMA.

Setelah tahu berapa target dan setoran setiap bulan, masih ada lagi yang harus dipertimbangkan, yaitu seandainya terjadi sesuatu di tengah jalan, misalnya orangtua kena PHK atau sakit sehingga tak bisa lagi memperoleh penghasilan tetap.

“Kalau begitu perlu diasuransikan. Sebetulnya, menabung sendiri dan beli asuransi sendiri juga bisa. Jumlah yang diasuransikan adalah jumlah dana pendidikan yang perlu dicover, tak perlu berlebihan.” Sekarang, pilihan untuk mengantisipasi risiko tidak terbayarnya DP karena hal-hal tak terduga yang terjadi pada orangtua jauh lebih praktis dan mudah diakses. “Biasanya ada produk dana pendidikan yang sudah sekaligus satu paket dengan asuransi. Yang ditawarkan, jika terjadi risiko pada orangtua, maka orangtua terbebas dari kewajiban membayar setoran. Setoran diterusin pihak asuransi.”

Yang perlu dilakukan adalah berapa jumlah yang harus diasuransikan. “Pakai saja perhitungan yang di awal tadi. Misalnya SD Rp 8 juta, SMP sekian, dan seterusnya. Jumlah tadi bisa ditaruh sekaligus dan diambil ketika anak mulai masuk ke tiap jenjang pendidikan. Kalau tadinya mencicil, maka sekarang sekaligus untuk mengantisipasi risiko tadi.”

Harus Kreatif

Orangtua harus bersikap lebih kreatif supaya persipan dana pendidikan yang ia jalankan tepat guna. “Dana pendidikan itu kan, sifatnya jangka panjang dan ada tahapannya. Masalahnya, kalau orangtua mengambil produk keuangan standar, seperti tabungan, keuntungannya kecil sekali, sementara kenaikan biaya dana pendidikan jauh lebih besar dibanding suku bunga yang bisa diberikan oleh bank. Artinya, kalau orang tua ngotot tetap memakai cara itu, setoran tabungan jadi sangat berat karena harus mengejar target dana investasinya.

Oleh karenanya, Mike menganjurkan, jika ada alternatif lain yang bisa memberikan return hasil lebih tinggi untuk investasi dalam jangka panjang, orangtua sebaiknya mempelajari. Orangtua harus meningkatkan selera Ada orang yang senangnya cuma menaruh uang di bank, itu artinya dia konservatif sekali, tidak mau sama sekali melirik ke investasi.

Dan karena dana pendidikan ini memiliki tahapan, maka jangka waktu investasinya bervariasi. Ada yang jangka pendek (1-2 tahun), menengah (3 – 5 tahun) dan jangka panjang. Tabungan dan produk keuangan konservatif cocok untuk yang jangka pendek, sementara jangka menengah dan panjang lebih baik pilih produk yang memberikan return lebih baik.
Sumber : Tabloid Nova

Alternatif tabungan Pendidikan di Tabungan Prudential sangat cocok dan bagus untuk menyiapkan tabungan pendidikan putra putri Anda...berikut gambarannya: 


Dalam Contoh diatas, misalkan mulai menabung saat anak umur 1 tahun, dan bapaknya usia 30 th. Kita ambil contoh tabungan 1 juta/ bln, rencana menabung 10 tahun, berarti total menabung selama 10 th = 1jtx12x10= 120 jt
  • Saat anak masuk SD contoh di atas diambil 15jt
  • Saat anak masuk SMP diambil 20 jt
  • Dan saat anak masuk SMU diambil 30 jt
  • Pada saat anak mau masuk kuliah masih ada saldo tabungan 230 jutaan lebih
  • Namun jika pada saat SD,SMP dan SMU tidak diambil, saat anak mau masuk kuliah ada dana tabungan 392 jutaan, dari hanya total menabung selama 10 th sejumlah 120jt
  • Disamping itu anak akan mendapat kartu Pru Hospital Surgical (PHS) yang berlaku sampai anak usia 55 th kelak(Pru Hospital Surgical ini dipakai ketika masuk rumah sakit. 
  • Dan yang paling bagus lagi adanya JAMINAN atau GARANSI Tabungan, ketika dalam masa menabung selama 10 tahun orang tua di tengah perjalan menabung orang tua terkena penyakit kritis, cacat total atau bahkan meninggal, maka Prudential membebaskan kewajiban menabung atau bisa dibilang STOP nabungnya/tidak wajib lagi meneruskan tabungan, tapi selanjutnya Prudential akan menjadi ORANG TUA ASUH yang akan melanjutkan tabungan ke rekening anak sejumlah biasa menabung sampai anak usia 25th.

JADI JANGAN TUNDA LAGI UNTUK MERENCANAKAN TABUNGAN PENDIDIKAN PUTRA-PUTRI ANDA DARI SEKARANG BERSAMA PRUDENTIAL....

Kalau Tidak dari sekarang...?akan dari mulai kapan lagi..apakah ketika sudah dekat waktunya anak sekolah baru kita menyiapkannya...?
Marilah menyempurnakan ikhtiar dalam rangka tanggung jawab kita terhadap KELUARGA yang kita cintai.

Untuk info manfaat yang anda terima jika menabung di Prudential silahkan klik DISINI untuk mengisi data-data yang dibutuhkan.

Anda Boleh Kok Tidak Berasuransi. Asalkan....

Asuransi, bagi sebagian orang Asuransi merupakan sebuah rekening yang sangat membantu, bagi sebagian lainnya dirasa tidak penting, bahkan dijauhi. Benarkan demikian..?

Kabar baiknya, Memang tidak semua orang memerlukan Asuransi. Lho kok bisa..? Bisa sekali, Anda termasuk orang yang tidak memerlukan Asuransi lagi asalkan:

1. Sudah mempunyai dana yang cukup kalau sampai Anda, Istri dan buah hati Anda Jatuh sakit.
Kalau Anda termasuk orang yang berdisiplin menyisihkan dana untuk keadaan tidak terduga, seperti sakit dan membutuhkan biaya yang cukup banyak, maka anda tidak perlu punya asuransi lagi. Karena Anda sudah mempersiapkan sejak awal.
Jika Anda dalam kondisi seperti ini, maka tidak perlu punya asuransi, kalau sakit tinggal habisin aja uang yang sudah dikumpul. Paling yang disesalin nantinya adalah coba punya asuransi, kan gak usah bayar sendiri, udah dibayari ama perusahaan asuransi.

2. Sudah mempunyai Dana yang cukup untuk Istri dan Anak (baca : keluarga) kalau sampai Meninggal terlalu cepat.
Nah, kalau Anda sudah memiliki uang yang cukup untuk membiayai keperluan biaya rutin rumah tangga (biaya kebutuhan hidup, listrik, PAM, dll) , biaya pendidikan anak, biasanya orang seperti ini sudah tidak punya cicilan. Maka dengan kondisi seperti ini , Anda tidak perlu punya asuransi.

3. Sudah mempunyai Dana yang cukup untuk biaya Anak sekolah sampai lulus.
Kalau anda sudah merancang pendidikan masa depan anak anda dan sudah menyiapkan dananya juga sesuai dengan perhitungan biaya real yang dibutuhkan, dan meskipun terjadi Suatu resiko yang menimpa Anda, namun Dana Pendididkan tersebut tetap ada, maka anda tidak perlu punya asuransi untuk pendidikan anak.

4. Sudah Sakit-sakitan.
Ya, ketika Anda sudah sakit-sakitan seperti Anda sudah menderita sakit jantung, diabetes, atau ada suatu penyakit pada organ tertentu, maka Anda sudah tidak butuh Asuransi lagi. Karena Perusahaan Asuransi tentunya akan menolak pengajuan Asuransi Anda.
Nah, mumpung masih sehat maka tak ada salahnya memiliki Asuransi. Karena kalau Anda sudah sakit-sakitan, perusahaan Asuransi otomatis akan menolak pengajuan asuransi Anda.

5. Usia Anda sudah diatas 65 tahun.

Ya, karena Faktor usia tersebut, Anda biasanya akan ditolak ketika mengajukan Asuransi. Karena biasanya sebuah Perusahaan Asuransi akan menerima nasabah dengan usia dibawah 60 tahun.
Jadi, mumpung masih muda dan sehat, segera miliki rekening Asuransinya.


Jadi sudah tahu kan, bahwa tidak semua orang memerlukan Asuransi. Kalau Anda sendiri kira-kira termasuk yang mana..? Dan ketika Anda termasuk orang yang mendambakan bisa hidup sejahtera dihari tua dan ingin menyekolahkan buah hati Anda sampai jenjang tingkat tinggi, namun tidak tahu bagaimana mempersiapkannya. Kami sebagai Financial Consultant akan membantu Anda dalam merencanakan keuangan Anda.